Anak Anda baru bisa membaca beberapa kata, lalu berdiri di depan rak buku toko dengan mata bingung. Anda ikut bingung karena buku anak sekarang tebal-tebal dan penuh gambar mengilap. Cara memilih buku bacaan pertama memang tidak cukup melihat sampul menarik. Ada beberapa hal yang perlu dicocokkan dengan kemampuan dan minat anak agar buku pertamanya tidak berakhir di rak tanpa disentuh.
Kenali dulu kemampuan baca anak, bukan usianya saja
Usia sering jadi patokan pertama saat membeli buku, padahal kemampuan membaca tiap anak berbeda. Ada anak enam tahun yang sudah lancar membaca kalimat sederhana, ada yang masih mengeja suku kata di usia tujuh. Sebelum memilih, coba dengar anak membaca satu halaman buku yang ada di rumah. Perhatikan apakah ia masih tertahan di kata dua suku kata atau sudah bisa membaca lancar dengan jeda wajar.
Dari situ Anda bisa menebak tingkat kesulitan yang pas. Buku yang terlalu mudah membuat anak cepat bosan, sedangkan buku yang terlalu sulit membuatnya menyerah di tengah halaman. Untuk anak yang masih mengeja, pilih buku dengan satu kalimat pendek per halaman. Untuk yang sudah lancar, buku dengan dua sampai tiga kalimat per halaman lebih menantang tanpa membuatnya kewalahan.
Perhatikan juga jumlah kata yang tidak dikenal anak dalam satu halaman. Jika ada lebih dari tiga kata sulit di halaman pertama, kemungkinan besar buku itu belum cocok untuk dibaca mandiri. Buku seperti ini masih bisa dipakai sebagai buku bacaan bersama, dengan Anda membantu mengucapkan kata-kata yang sulit.
Sesuaikan jenis buku dengan tahap baca anak
Buku bergambar dan buku cerita panjang punya peran berbeda di tahap awal membaca. Buku bergambar dengan teks sedikit cocok untuk anak yang baru mulai membaca sendiri karena gambar membantu menebak konteks kalimat. Buku cerita berseri dengan bab pendek lebih pas untuk anak yang sudah bisa bertahan membaca beberapa halaman tanpa gambar di tiap lembaran.
Kalau anak Anda masih ragu antara keduanya, lihat pembahasan buku bergambar vs buku cerita panjang untuk anak agar tidak salah menakar. Keduanya cocok untuk tahap yang berbeda, jadi sesuaikan dengan kemampuan baca anak sekarang.
Untuk pemula, buku dengan teks berulang atau pola kalimat yang sama di beberapa halaman sangat membantu. Anak bisa menebak kata berikutnya dan merasa berhasil menyelesaikan halaman. Rasa berhasil inilah yang membuatnya mau melanjutkan ke halaman berikutnya tanpa disuruh.
Ikuti minat anak, bukan selera orang tua
Anak yang suka dinosaurus akan lebih bersemangat membaca buku tentang dinosaurus dibanding buku cerita peri yang menurut Anda bagus. Ini bukan berarti Anda pasrah pada selera anak. Anda tetap bisa mengarahkan, misalnya dengan menawarkan tiga pilihan buku bertema binatang, kendaraan, atau masak-masakan, lalu biarkan anak memilih satu.
Perhatikan juga hal yang sedang ia sukai di luar buku. Anak yang suka bermain di dapur mungkin tertarik pada buku resep sederhana untuk anak. Anak yang sering bertanya soal hujan dan awan bisa diberi buku sains bergambar. Buku yang menyambung dengan keseharian anak lebih mudah menarik perhatiannya.
- Ajak anak memilih sendiri di toko atau perpustakaan, tapi batasi pilihannya menjadi dua atau tiga buku.
- Buka satu halaman acak dan minta anak membaca sebentar untuk melihat apakah ia nyaman.
- Lihat apakah ilustrasinya membantu memahami cerita atau justru membuat teks tertutup gambar.
- Cek ukuran huruf dan jarak antarbaris, terutama untuk anak yang baru lancar membaca.
Perhatikan hal teknis yang sering diabaikan
Ukuran huruf, lebar spasi, dan panjang baris berpengaruh besar pada kenyamanan membaca anak pemula. Huruf yang terlalu kecil membuat mata cepat lelah. Baris yang terlalu panjang membuat anak kehilangan jejak saat pindah ke baris berikutnya. Buku untuk pembaca awal biasanya memakai huruf besar dengan baris pendek dan spasi lebar, jadi perhatikan hal ini saat memilih.
Ketebalan buku juga perlu dipertimbangkan. Buku setebal seratus halaman bisa membuat anak mundur sebelum mulai, meski isinya sederhana. Buku tipis dengan cerita utuh lebih baik untuk membangun kebiasaan menyelesaikan bacaan. Setelah anak terbiasa menuntaskan buku tipis, Anda bisa menaikkan ketebalannya perlahan. Pembahasan lebih lanjut soal ini ada di artikel kenapa anak bosan baca buku tebal dan cara mengatasinya.
Kualitas cetak dan kertas juga berpengaruh, terutama untuk buku yang akan dibaca berulang kali. Halaman yang mudah robek atau warna yang pudar membuat buku cepat rusak dan anak kehilangan minat. Untuk buku pinjaman perpustakaan, kondisi ini biasanya sudah tersaring, jadi tidak ada salahnya menjadikan perpustakaan sebagai tempat mencoba sebelum membeli.
Mulai dari buku pendek, lalu naik perlahan
Banyak orang tua langsung membelikan buku kumpulan cerita tebal karena merasa lebih hemat. Untuk anak pemula, satu buku tipis yang selesai dalam satu duduk lebih memberi rasa tuntas. Anak bisa bilang, “Aku sudah selesai satu buku,” dan itu memicu keinginan membaca buku berikutnya.
Setelah anak menyelesaikan beberapa buku tipis, Anda bisa menawarkan buku dengan dua atau tiga bab pendek. Kenaikan tingkat kesulitan sebaiknya bertahap, tidak melompat jauh. Jika anak terlihat kesulitan di buku baru, tidak perlu memaksa. Kembali ke buku yang lebih mudah sebentar, lalu coba lagi beberapa minggu kemudian.
Membiasakan anak membaca setiap hari, meski hanya sepuluh menit, lebih berdampak daripada membaca lama tapi hanya di akhir pekan. Anda bisa menerapkan kebiasaan ini dengan cara yang tidak terasa memaksa, seperti yang dijelaskan di cara menumbuhkan minat baca anak di rumah tanpa paksaan.
Ajak anak membaca bersama dan diskusikan isinya
Buku bacaan pertama tidak harus dibaca sendirian. Anda bisa bergantian membaca satu halaman, lalu bertanya hal sederhana tentang isi cerita. Pertanyaan seperti “Menurutmu kenapa tokohnya sedih?” membuat anak terbiasa memahami bacaan, bukan sekadar melafalkan kata.
Kegiatan membaca bersama juga memberi kesempatan Anda mengoreksi pelan-pelan saat anak salah membaca kata. Hindari memotong terlalu sering karena bisa membuat anak kehilangan alur cerita. Biarkan anak menyelesaikan kalimat, baru kemudian tunjukkan kata yang perlu diperbaiki.
Kebiasaan membaca nyaring yang konsisten di rumah membantu anak mengenal irama kalimat dan menambah kosakata. Pola ini bisa Anda pelajari lebih jauh di 7 kebiasaan membaca nyaring yang membuat anak ketagihan buku. Untuk anak yang baru mulai membaca sendiri, membaca nyaring bersama tetap berguna sebagai jembatan sebelum ia sepenuhnya mandiri.
Catat buku yang sudah dibaca dan yang ingin dibaca
Membuat daftar buku sederhana di buku catatan atau tempelan di dinding membantu anak melihat kemajuan bacanya. Setiap kali menyelesaikan satu buku, ia bisa mencoret atau menempel stiker. Cara ini sederhana, tapi memberi gambaran nyata bahwa usahanya bertambah dari waktu ke waktu.
Daftar keinginan membaca juga berguna saat mengunjungi toko buku atau perpustakaan. Anak tidak mudah tergoda buku yang tampilannya menarik tapi belum tentu cocok. Anda bisa mengingatkannya untuk melihat daftar dulu sebelum memilih. Kebiasaan ini melatih anak berpikir sebelum membeli, bukan sekadar mengikuti kemasan.
Menulis catatan sederhana tentang buku yang dibaca juga bisa jadi latihan menulis awal. Anak bisa menuliskan satu kalimat kesan setelah selesai membaca. Jika nanti ia ingin menulis ulasan yang lebih rapi, ada panduan cara menyunting tulisan sendiri sebelum dipublikasikan di blog yang bisa dipelajari saat ia sudah lebih besar.
Ringkasan
Memilih buku bacaan pertama untuk anak pemula berpijak pada tiga hal: kemampuan baca anak saat ini, minat yang sedang ia tekuni, dan tingkat kesulitan teks yang sesuai. Mulailah dari buku tipis dengan kalimat pendek, biarkan anak ikut memilih, dan naikkan tingkat kesulitannya perlahan. Jika Anda juga sedang mempertimbangkan jalur pendidikan anak ke depan, perbandingan PTS vs Reguler vs Kelas Karyawan: Pilih yang Mana? bisa menjadi bahan pertimbangan di kemudian hari. Untuk sekarang, fokuskan dulu pada satu buku tipis yang membuat anak ingin membaca halaman berikutnya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa usia ideal anak mulai membaca buku sendiri?
Sebagian anak mulai membaca kata sederhana di usia lima atau enam tahun, sebagian lain baru lancar di usia tujuh. Yang lebih penting adalah kesiapan anak mengenali huruf dan ketertarikannya pada buku, bukan angka usianya. Jika anak belum menunjukkan minat, Anda bisa mulai dengan membacakan buku bersamanya lebih dulu.
Apakah buku digital cocok untuk pembaca pemula?
Buku digital bisa dipakai, terutama yang menyediakan fitur sorot kata saat dibaca. Namun untuk pemula, buku cetak masih lebih ramah karena anak bisa memegang, membalik halaman, dan melihat gambar tanpa gangguan notifikasi. Jika memakai buku digital, sebaiknya dampingi anak dan batasi waktunya.
Bagaimana kalau anak menolak buku yang sudah dibeli?
Jangan langsung memaksa. Simpan buku itu dan coba tawarkan lagi beberapa minggu kemudian. Anak kadang butuh waktu untuk siap. Anda juga bisa membacakan buku tersebut bersama anak agar ia mengenal isinya lebih dulu, lalu biarkan ia memutuskan sendiri kapan ingin membacanya.
